Terbaru

    Apakah Bisnis MLM Potensial Sebagai Pasif Income?

    Pemasaran Jaringan - Mengenal Apa Itu Multi-Level Marketing (MLM)?

    mengenal sistem prinsip bisnis MLM
    Sumber ilustrasi via mlm.com
    Belajar Internet Marketing - Seperti namanya, Multi Level Marketing (MLM) merupakan sistem strategi penjualan langsung atau dalam bahasa Inggris dinamakan Direct Selling. Sebenarnya sistem penjualan langsung merupakan strategi pemasaran produk yang sudah ada bahkan digunakan sejak jaman dulu, namun dalam bentuk berbeda-beda. Pertukaran barang (barter), cara berdagang bangsa Arab dan bangsa Mongol termasuk sistem perdagangan dengan penjualan langsung. Penjualan langsung ditandai dengan hubungan langsung antara penjual dan calon pembeli (konsumen, pelanggan) ketika melakukan perpindahan produk. Transaksi terjadi secara langsung dari orang ke orang (man to man transaction).

    Faktanya setiap aktivitas ekonomi manusia tidak lepas dari penjualan langsung, setidaknya dalam hal branding image diri sendiri. Produk utamanya adalah kemampuan serta keahlian yang dimiliki dalam bidang tertentu. Contoh sederhananya ketika seorang dosen sebuah perguruan tinggi menjual keahliannya mentransfer ilmu kepada mahasiswa didiknya. Dalam hal ini orang tua/wali dari mahasiswa membayar atas "produk" para dosen tersebut melalui rektorat kampus tempat dimana sang dosen menjual kemampuan mengajarnya tersebut. Tak ubahnya dengan tukang kayu, tukang bangunan, dokter, advokad, tentara, karyawan pabrik, polisi dan pekerjaan profesional lainnya, sejatinya mereka “menjual diri” kepada konsumen sesuai dengan kapasitas keilmuan yang mereka miliki. Sekolah (pendidikan) boleh dibilang modal untuk dijual kembali kepada konsumen guna mencari penghasilan.

    Lalu apa hubungannya dengan bisnis MLM? Tak ada bedanya. Di bisnis MLM juga ada pembeli dan adanya penjual. Perbedaannya hanya terletak pada sistem MLM melakukan proses penjualan melalui member (penjual) kemudian mencari pelanggan lalu merekrutnya menjadi member (sebagai mitra usahanya) lalu mendidik mitra usaha tersebut untuk mencari pelanggan baru dan merekrutnya menjadi member demikian seterusnya kemudian dikenal proses ini sebagai Duplikasi dalam MLM. Para penjual di perusahaan dengan sistem MLM tidak diharuskan menjajakan produknya sambil keliling mencari calon konsumen, sebab proses transaksi antara penjual dan pembeli akan dilakukan dikantor keagenan terdekat. Bahkan untuk saat ini transaksi bisa dilakukan melalui media internet sehingga selain meluaskan jaringan juga efisiensi waktu bisa didapatkan.

    Ilustrasi alur distribusi MLM seperti gambar berikut ini


    alur distribusi bisnis MLM
    Sumber gambar via kdpbiz.com

    Sedangkan Ilustrasi alur distribusi bisnis Konvensional seperti gambar berikut ini



    alur distribusi bisnis konvensional
    Distribusi Konvensional
    Member perusahaan MLM membekali dirinya dengan sebuah-sepaket-sekujur katalog sebagai pengganti produk yg mereka pasarkan. 

    Maka dari itu setidaknya terdapat 3 poin yg membedakan antara pelaku bisnis MLM dengan penjual dibisnis konvensional, simak dibawah ini:


    1. Adanya komunikasi interaktif dan intensif antara member (penjual) dengan calon konsumen (pelanggan) tentang penjelasan kualitas produk perusahaan
    2. Adanya pengetahuan member MLM tentang produk (product knowladge) yang dipasarkan lebih cakap jika disandingkan dengan sistem penjualan lain
    3. Keuntungan yang diterima penjual MLM terdiri atas dua hal, yaitu bonus yang dibayar oleh perusahaan dan keuntungan penjualan langsung dari produknya itu sendiri.

    Bonus dibayarkan atas peningkatan omset sang member beserta seluruh jaringannya untuk perusahaan. Keuntungan penjualan adalah selisih harga antara harga member yang dibayarkan member kepada perusahaan dengan harga yang dibayar oleh konsumen bukan member kepada member.

    Jenis bonus bisnis MLM sangatlah beragam tergantung dari perusahaan masing-masing dan jenjang karier membership, dari upline hingga downline, sehingga kemudian dinamakan sistem multi level marketing. Pelaksanaannya dengan menggabungkan dua macam komoditas yaitu produk perusahaan MLM dan jasa pelayanan transaksi untuk memuaskan konsumen dan pelanggan.

    Demikian ulasan singkat mengenai Apakah Bisnis MLM Itu Potensial Sebagai Parif Income?, agar lebih memahami tentang MLM Online dan informasi seputar MLM Syariah bisa mengakses Support System. Terimakasih banyak atas knjungannya di Pemasaran Jaringan. Salam Sukses Selalu!!

    Cara Cerdas Menjalankan Bisnis Multi Level Marketing

    tips mudah menjalankan bisnis jaringan
    Image via mlmsoftware-india.com

    BISNIS SYARIAH E-MIRACLE | Cara Cerdas Menjalankan Bisnis Multi Level Marketing


    Jika Anda termasuk orang yang ingin memulai sebuah bisnis MLM, atau sedang mendapat pengaruh untuk bergabung pada sebuah bisnis MLM, maka ada beberapa cara cerdas yang perlu Anda ketahui untuk dapat menjalankan Bisnis MLM yang sehat dan profesional, yaitu :


    1. Saat mengajak orang lain untuk bergabung dalam bisnis MLM yang sedang Anda tawarkan, tekankan prinsip keuntungan bersama yang bisa didapatkan, dan cara mengembangkan bisnis ini dengan bantuan Anda, biarkan mereka bergabung secara suka rela tanpa unsur paksaan dari Anda. hal ini akan membuat orang tersebut mudah diajak bekerja sama untuk mengembangkan jaringan. Hindari memaksa orang untuk bergabung dalam bisnis MLM, apalagi menjanjikan hal yang muluk-muluk. Karena kesan memaksa bergabung dan menjual janji-janji bonus dapat memberikan kesan negatif dan antipati terhadap bisnis Multi Level Marketing.


    2. Dengarkanlah semua pendapat orang yang sedang Anda ajak bergabung, baik yang negatif maupun yang positif, jangan hanya berbicara tentang produk dan bisnis saja, padahal dengan bersifat empati kepada orang yang Anda ajak bicara, dan mencoba memberikan solusi terhadap permasalahan yang mereka hadapi akan membuat mereka akhirnya mulai berpikiran terbuka dan bersedia bergabung dalam jaringan bisnis Anda dengan sukarela.   


    3. Bangunlah bisnis Anda dengan cara yang sehat dan simpatik, dimana Anda membantu dan memotivasi semua downline Anda tanpa tebang pilih, agar semuanya dapat berkembang dan bisa meraih posisi yang sama seperti Anda sekarang. Karena semakin besar jaringan para downline Anda maka semakin besar potensi kesuksesan bisnis MLM Anda.


    Selain hal tersebut diatas menjalankan bisnis Multi Level Marketing juga sangat bergantung pada pelakunya, sama seperti bisnis konvensional lainnya, dimana dibutuhkan minat dan passion dalam menjalankan bisnis MLM. Karena tidak setiap orang memiliki kemampuan dan minat yang besar untuik mengembangkan bisnis ini. ada yang beranggapan sangat sulit menjalankan bisnis ini karena harus merekrut orang-orang baru, mulai dari yang dikenal secara pribadi maupun orang yang sama sekali tidak dikenal. Dan pada akhirnya pada awalnya saja orang bersemangat menjalaninya, namun seiring perjalanan waktu mereka akhirnya mundur karena merasa tidak punya bakat untuk mengembangkan bisnis Multi Level Marketing.
     
    Tapi tahukah Anda sebenarnya ada 3 solusi yang cerdas untuk memulai dan menjalankan bisnis MLM, yaitu :

    *Gunakanlah produk MLM tersebut untuk berbagai keperluan pribadi Anda

    *Saat melakukan rekrut downline, jangan terlalu banyak memasang target, cukup beberapa orang saja, namun benar-benar ingin bergabung dan menjalankan bisnis MLM secara benar.

    *Setelah itu duplikasikan cara Anda ini dengan downline Anda, sehingga mereka melakukan cara yang sama dengan Anda.


    Dengan 3 solusi cerdas dan sederhana di atas, maka bisnis Multi Level Marketing yang Anda jalankan akan mudah mencapai kesuksesan.

    Sistem Multi Level Marketing Menurut Pakar Bisnis


    strategi sistem mlm


    1. "Harga Produk MLM mahal-mahal. Kadang tidak sesuai dengan manfaatnya"
    Jika ada yang berkomentar seperti ini, bagaimana jika pertanyaannya dibalik,
    "Apa standar murah dan mahal sebuah produk ?" - (semua produk, bukan MLM saja)
    Sefaham saya, tidak ada sebuah batasan mengenai berapa persen kita boleh melakukan mark up harga. Misal sebatang rokok diproduksi dengan harga Rp 10 kemudian dijual dengan harga Rp 1.000 maka mark upnya 10.000% !! Kalau standar murah atau mahal ditentukan dari kemampuan beli kita sebagai penjual, sepertinya terlalu naif.
    Kita saja jika berhenti di perempatan jalan, kemudian ada anak kecil menjajakan koran, yang harganya Rp 2.000 saja belum tentu beli. Tapi jika disodorkan ruko yang harganya M, rebutan, bahkan dibelain untuk hutang.Apakah koran harganya mahal ? Apakah di kantong Anda saat ini tidak ada uang yang nilainya min Rp 2.000 ?

    "Lho, tapi ini kan yang dijual produk kesehatan. Harusnya bisa lebih murah dong !!"

    Sekali lagi, murah atau mahal, standarnya janganlah di angkanya, tapi mungkin lebih pas jika kita berbicara di kualitasnya. Ada harga ada rupa. Produk kesehatan sendiri, jika Anda mau kroscek, harga produksi sebuah infus itupun markupnya gila2an. Biaya marketing dari poduk itu dibebankan ke konsumen. Makanya karena keuntungannya yang berlipat, minimal kalau kita ke RS, disuruh ngamar dulu, diinfus dulu... Karena infus labanya lumayan untuk industri kesehatan. Andai dibuka di publik berapa harga produksinya, anda pasti syok.Tapi apa benar sebuah produk hanya dinilai dari harga produksinya ? Apakah Anda tidak menghitung biaya penelitiannya ? Patennya? Dan lain-lain. Oleh karena itu saya katakan, jika mau bermain di MLM, produknya sebaiknya memiliki nilai unik yang sulit dikejar, karena kalau di level komoditas, jelas pasti kalah bersaing di pasar.

    Contoh :Harga kopi 1 Kg Rp 8.000 --> ini level komoditas
    Naik sedikit satu level, jadi level branding --> Kapal Api misalnya, Dijual per sachet 20gr = Rp 1000 (berarti sekilo bisa jadi Rp 50.000)
    Naik level lagi menjadi kelas service / pelayanan, bikin cafe --> Excelso (ini cafenya kapal Api) harga jual per cangkir jadi Rp 50.000 (Sekilo kopi bisa jadi berapa cangkir ?)

    Bisa Anda lihat grafiknya, semakin kita pintar memilih segmentasinya, semakin tinggi leverage yang bisa Anda lakukan. Namun, pernahkah Anda melihat ada orang minum kopi di kedai eksklusif seperti excelso dia marah-marah,

    "Wah, dasar penipu !! Jual kopi saja mahal amat !!"

    Alhamdulillah, sampai sekarang belum pernah menjumpainya. Konsumen kelas atas cukup tahu diri dengan namanya bisnis dengan basis service. Kembali ke produk MLM yang rata2 mengambil produk suplemen, jika memang ternyata mampu membantu proses kesembuhan, mengapa tidak ? Banyak yang saya jumpai, ketika dihadapkan situasi harus operasi dengan biaya puluhan juta, eh, dengan produk MLM, beberapa botol yang nilainya ndak lebih dari 3jt saja, sudah terbantu, bahkan dinyatakan sembuh total.

    Apakah PASTI terjadi di setiap orang ?

    Tentu saja tidak, produk MLM kan bukan produk dewa. Kalau pun terjadi overclaim, ya itu oknum namanya. Dunia medispun, sampai sekarang juga tidak pernah memberikan garansi sembuh. Tulisan yang diperbolehkan, yag pernah saya baca adalah, "MEMPERJANJANG HARAPAN HIDUP". Kalau sama-sama diminta untuk mencoba, kenapa tidak mengambil saja peluang kesembuhannya dengan biaya yang terjangkau.

    Ya mohon maaf, ketika Anda sakit kan juga bukan karena makan eskrim pagi tadi, sore langsung diabetes.. Atau makan soto siang ini, malam langsung kena asam urat... Itu adalah satu proses rangkaian panjang dari pola hidup yang tidak sehat, dan akhirnya mencapai batas maksimal ketahanan tubuh kita.

    Kembali ke topik mahal, "APA DEFINISI MAHAL SEBENARNYA"
    Mahal adalah dimana kita mengetahui jika kebutuhan shampo kita untuk sekeluarga dalam sebulan adalah kemasan 500ml yang harganya Rp 10.000, tetapi kita lebih memilih membeli kemasan sampo yang 150ml dengan harga Rp 3.500. Artinya kemasan 150ml ini jauh lebih mahal dibanding yang 500ml

    Mahal adalah dimana ketika kita tidur di sebuah hotel dengan membayar Rp 150.000, di Hotel A kita mendapat fasilitas TV dan AC, sementara di hotel B kita hanya mendapat TV dan Kipas Angin. Artinya hotel B lebih mahal dibanding dengan A.

    Paham maksud saya ya ?

    Tidak semua penjual mobil BMW memiliki mobil BMW...
    Tidak semua sales Apartemen memiliki banyak apartemen...
    Tetapi mereka yang menjual BMW atau apartemen memiliki konsumen yang MAMPU membelinya.
    Sehingga pergaulannya jadi meningkat, kenalannya pun naik kelas, sehingga kualitas hidupnya memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik.

    ***

    Hermawan kertajaya mengatakan, market itu terbagi 3 seperti halnya piramida. Di level bawah, adalah level komoditas, dimana di sana sering terjadi pertarungan yang berdarah2... Beda seratus rupiah saja, sudah bisa menyebabkan konflik. Hotel yang Rp 100.000 semalam ada, yang Rp 100jt semalam juga ada.Pertanyaannya, kaya mana diantara keduanya ? Beberpa kali, teman saya pun bercerita ketika dia hendak menawarkan gudang pabrik. Ada pembeli yang nawarnya kebangetan, ada juga yang halus dalam bernegosiasi. Dan rata-rata mereka yang halus responnya, adalah mereka yang berasal dari golongan kaya level atas. Dalam hati, ya mungkin itu mengapa Allah lebih mengamanahkan kepada mereka yang bersikap lebih santun.

    Asal bukan di level komoditas, harga produk MLM berapapun tidak jadi masalah. Namun jika yang dimarkup adalah produk kebutuhan sehari-hari hingga masyarakat tidak bisa membeli, nah di sini laknat Allah diturunkan.. (nanti saya carikan ayatnya)

    2. "Orang MLM membuat orang yang tidak butuh, jadi butuh"
    Dari tidak butuh menjadi butuh adalah ilmu dasar dari selling (Penjualan). Ingat bahwa rejeki datang kepada mereka yang produktif, bukan konsumtif. Jika mau jujur, jika kita memiliki restoran, kemudian ada konsumen yang mampir makan di restoran kita, APAKAH DIA BENAR-BENAR BUTUH dengan produk masakan Anda ? Apakah orang yang makan di tempat Anda, tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dengan cara masak di rumah ?

    Inilah bisnis, senantiasa ada penawaran, permintaan, dan tentunya juga ada penolakan. Hal yang lumrah sebetulnya, dan sering kita alami, tidak hanya ketika bertemu orang MLM saja.Mampir ke minimarket, beli produk A, kemudian si kasir menawarkan rokoknya lah, pulsanya lah, ini itu. Dan akhirnya belanjaan kita nambah...

    Mampir ke rumah makan, ambil porsinya prasamanan... Ketika ditanya "tambah apa lagi... tambah apa lagi..." sampai Anda mengatakan stop/ dah ini saja.Dan ternyata ketika konsumen kembali ke komunitasnya, dia baru sadar, tadi kenapa ya beli ini ? Padahalkan kan belum butuh...

    Nah, teknik menjual inilah yang kita kenal dengan Selling with NLP. Siapapunun butuh dan bisa mempraktikkannya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
    Titik krits dari topik ini adalah, ketika ada yang menjual kita dengan cara memakasa. Ya, yang seperti ini kita tidak dapat hukumi secara general. Inilah oknum. Dimanapun tempatnya pasti ada.

    Kenapa kok ada orang yang menjual produk MLM dengan begitu mendesaknya... Sampai-sampai bikin risih. Disinilah tantangan pemilik perusahaan untuk memberikan pelatihan yang terbaik, karena hal ini erat kaitannya dengan citra perusahaan. Jika tidak, ya hasilnya seperti yang kita sedang diskusikan, pebisnis MLM pemula adalah pengusaha yang belum terdidik apalagi terlatih.

    Wajarlah, kita pun pernah mengalami di waktu awal membangun bisnis. Jika pun Anda menjumpai seorang sahabat dengan kondisi seperti ini, dan ada rejeki lebih.. Bantulaaaaaah... Beli produknya. Kita pun ketika memiliki bisnis, kita juga ingin kerabat dekat kita juga membeli produk atau menggunakan jasa kita. Siapa tahu, "pemaksaan" yang dia lakukan bukan karena keinginannya, tetapi lebih kepada kondisi kepepet. Mungkin dia sedang butuh uang cepat untuk anaknya berobat atau bayar SPP. Tapi karena modal sudah terlanjur dibelikan barang dagangan. Maka dia harus sesegera mungkin menjual produknya dan menjadikannya uang. Orang yang seperti ini masih memiliki harga diri, daripada mengiba mencari hutang, dia lebih rela menjemput rezeki Tuhan melalui perdagangan. Tidak hanya di MLM. Di kehidupan biasapun, ada sahabat kita yang menjual mobil, rumah, dan lain-lain. Karena waktunya sudah mepet, ya kadang bergeraknya di luar kontrol, seperti mengerjakan soal ujian di menit-menit terakhir.

    Sebagai sahabat saling mengingatkan dan menjaga perasaan.

    3. "Join di MLM, menguntungkan yang atas, merugikan yang bawah"
    Ada juga beberapa kali statement yang saya tulis ini muncul sebagai opini di masyarakat.
    Sekarang jika kita tidak ingin menguntungkan orang lain,
    berarti mulai sekarang juga tidak usah beli makan di restoran, karena makan di restoran menguntungkan pemilik restoran...
    Tidak usah juga potong rambut di salon, karena potong rambut di salon menguntungkan pemilik salon...
    Tidak usah juga service mobil, karena service mobil rutin memberi keuntungan bagi pemilik bengkel...

    Jadi, mulai sekarang cuci baju sendiri tidak usah laundry...
    Nanem padi dan sayur sendiri, tidak usah beli di mlijo (abang tukang sayur)
    Ngajari anak sendiri, karena kalau disekolahkan, memperkaya pemilik yayasan...

    Dan seterusnya.. dan seterusnya...

    Apakah seperti ini ?

    Coba ditarik kembali ke dunia konvensional, 
    Apakah dengan memberikan gaji tinggi kepada karyawan Anda, MENGGARANSI dia akan setia, loyal, dan memberikan kualitas terbaik dalam perusahaan Anda ?
    Jika jawabannya tidak, APA YANG DICARI OLEH KARYAWAN YANG ANDA GADANG2 TADI ?
    Turn over (keluar masuknya karyawan) di perusahaan kita bisa jadi sangat tinggi, bukan semata-mata karena tidak cocok dengan gaji, tetapi juga karena suasana kerja bahkan juga kemampuan leadership Anda.Padahal fungsi karyawan adalah daya ungkit waktu.

    Punya 5 sales, masing2 kerja 8 jam sehari, berarti Anda memiliki potensi produktivitas 40 jam sehari. Jika nilai transaksi bisnis kita Rp 100.000 perjam, maka ada pemasukan Rp 4jt ke perusahaan. Dalam sebulan Omset perusahaan (25 hari kerja) adalah RP 100jt

    Dari sini terjadi pembagian porsi :
    Gaji Direktur 1 Orang @Rp 10jt: Rp 10jt
    Gaji Manajer 2 Orang @Rp 5jt : Rp 10jt
    Gaji Karyawan 5 Orang @Rp 2jt : Rp 10jt
    Biaya operasionil 20% : Rp 20jt
    Total : Rp 50jt

    Selebihnya, yang Rp 50jt dianggap profit bos atau pemilik usaha.
    Apakah jika Anda ketika diperlihatkan laporan keuangan seperti ini, langsung mendemo bos Anda ?
    Siapakah yang bekerja lebih keras antara karyawan dengan pemilik usaha ?
    Jawaban yang muncul pertama, pasti "Ya jelas saja, kan pemilik usaha MODAL DULU di Depan

    "Bagaimana dengan MLM ?"

    Hal yang sama, mereka orang-orang pertama yang mengawali bisnis MLM, alias babat alas perjuangannya ya berdarah-darah... Jangan dikira semudah membalikkan telapak tangan. Yang sukses benar-benar dari bawah ada... (Walau yg rekayasa juga ada.. Inilah intrik bisnis... Ndak hanya di MLM, dunia apapun, kita juga akan jumpai OKNUMnya..)

    Baca juga: Potensi Bisnis MLM hasilkan Pasif Income

    Mungkin yang menjadi catatan dari saya adalah, ketika ada orang yang menawarkan bisnis MLM kepada kita, dan setelah kita menerimanya, kita tidak didampingi, dan diminta kerja sendiri, dan hanya dijadikan layaknya sapi perah... Nah, jika begitu ceritanya, sama dong dengan kondisi di bisnis konvensional, ketika Anda tidak membangun hubungan emosional kepada tim Anda. Oleh karena itu, gaji tinggi tidak selalu menggaransi orang akan loyal kepada Anda seumur hidupnya.

    4. "MLM janjinya manis, bisanya iming-iming realitasnya nol"
    Yup, janji selalu manis...
    Janji setia mencintai seorang wanita,
    Janji untuk hadir di ulang tahun Anak,
    Janji untuk mengunjungi saudara jauh...

    Janji.. Janji.. Janji..Janji adalah hutang..

    Nah, mengapa orang MLM kok ngomongnya selalu tinggi2, bahkan terkesan ndak realistis...
    Yang dapat BMW lah, pesawat terbanglah, income 1M perbulan lah..Bla bla bla bla...

    Apakah Anda tidak menyukainya ?

    Mungkin komentar yang sama juga dilontarkan oleh para investor Anda, baik perorangan maupun kelembagaan seperti perbankan. Ketika Anda membutuhkan suntikan dana tambahan untuk memperbesar kapasitas bisnis Anda, pasti Anda MENCARI PARTNER sebagai pemodal/investor. Apa yang Anda ceritakan kepada mereka ?

    Cerita bisnis Anda yang akan menguasai dunia,
    atau kisah dimana uang anda ditilep oleh karyawan...
    cerita tentang ketidakpuasan konsumen Anda...
    Cerita tentang tidak sehatnya persaingan bisnis...
    Saya yakin, hampir mayoritas BERCERITA YANG BAIK-BAIKNYA SAJA.
    Karena Anda berharap si investor setuju untuk MEMBERIKAN UANGNYA dalam pengembangan bisnis Anda.Tentu jika ada kerja sama bisnis seperti ini, keuntungan dinikmati kedua belah pihak doong..
    Nah, kalau rugi ? Jika investor berusaha menyanggah argumen Anda,Maka dengan SEKUAT TENAGA Anda berusaha mempositifkannya...
    Betul ndak kira-kira apa yang saya sampaikan ?

    Jika jawabannya adalah IYA, CARA PRESENTASI kita kepada pihak Bank dalam mengajukan kredit jika ditulis kurang lebih seperti ini...
    "Kepada kepala cabang yang terhormat, berikut ini adalah usaha saya yang bernama PT "X", bergerak di bidang "X", selama ini beroperasi 2 tahun dan menghasilkan keuntungan "X". SAYA YAKIN jika 1 unitnya saja bisa menghasilkan angka sedemikian fantastisnya. Jika jumlah keran incomenya kita tambah, maka KEUNTUNGANNYA AKAN BERLIPAT GANDA."

    Yang pernah ngajukan hutang ke bank, pasti cengar-cengir 

    Yup, optimisme MUTLAK dimiliki seorang pengusaha... Ketika Anda bercerita dengan begitu antusiasnya, maka harapannya adalah agar orang yang mendengar presentasi Anda, dapat berkontribusi kepada bisnis Anda. Pun demikian dengan member MLM. Ketika dia bercerita dengan antusias dan prospek bisnis yang ditawarkan, maka harapannya, member MLM tadi tidak sedang menjual produk kepada Anda. Tetapi lebih kepada sebuah negosiasi agar Anda mau menjadi partner bisnis mereka. Ingat ya, partner.. Bukan customer...

    Yang namanya partner, maka yang dibangun adalah visi bisnis masa depannya.
    Sebagaimana Bil Gates bercerita, bahwa Microsoft suatu saat akan berjaya kepada tim suksesnya, dan tugas mereka adalah bagaimana di setiap rumah memiliki seperangkat PC.Bayangkan jika Bil Gates membangun visi tersebut dengan nada pesimis..

    "Yaah, hari ini kita kerja, daripada nganggur ya... Targetnya bagaimana setiap rumah memiliki PC... Tapi kalau ndak tercapai, ya ndak papalah... Mungkin Tuhan punya kehendak lain."

    Apa yang kita rasakan jika sekaliber Bill Gates berorasi dengan text yang saya tulis...
    Makin micro dan soft kan alias mengkeret semangat kita.

    Karena statusnya adalah partner, artinya setara. Jika yang dikritisi adalah pemain MLM gara-gara antusiasnya yang menggelora, bagaimana dengan pebisnis konvensional yang keburu pengen sukses, dikit-dikit franchise.. dikit-dikit franchise.. Bisnis belum tentu untung, udah kepengen franchise atau di BO kan..

    Coba tilik bisnis kebab, dulu yang menjamur, sekarang berapa yang tutup...
    Padahal invest disana paling ndak Rp 30jt saja masuk... Sudah balik modal belum investornya ?
    Di TV pun, dulu pernah ada pengusaha jogja, bikin gorengan dari singkong, hingga akhirnya diangkat di media bersama partai PAN. Jargonnya saya masih ingat, "Omset Rp 2Milyar perbulan" Kemana sekarang ini ? Mengutip sedikit dari Iman Supriyono, penulis FSQ Quotient, ya inilah angka psikologis ketika orang ditawari buka bisnis modal Rp 3jtan... Kalau pun harus tutup, ndak sampai harus nangis darah.. Anggap saja ongkos belajar...

    Yang model grobakces-grobakcesan (meminjam istilah Rhenald Kasali menyindir franchise model gerobak gerobakan) seperti inilah, yang akhirnya menjadikan citra franchise jadi jelek di indonesia.. Apalagi kalau beli bisnis instan hanya untuk dipakai sebagai business casing, agar dapat kredit bank untuk dikemplang. Kalau ndak yakin, coba tanya ke Pak Burang (Konsultan Franchise Nasional)

    Jadi, berbicara mengenai Janji, bukan cuma orang MLM saja kan..Kita semua pernah berjanji...

    5. "MLM itu haram"
    Sebagai muslim ada istilah Syariat dan Muamalah...
    Syariat adalah ketentuan yang mengatur mengenai ibadah,
    Sementara muamalah mengenai hubungan sosialnya..
    Kaidah Syariah berbeda dengan muamalah..
    Dalam syariah, segala sesuatunya dilarang kecuali yang dicontohkan... Melenceng sedikit, inilah yang dikenal dengan Bid'ah...
    Muamalah, sebaliknya... Segala sesuatunya diperbolehkan, kecuali yang dilarang.

    Allah menghalalkan jual beli, dan mengharamkan riba...

    MLM adalah konsep baru yang dijaman nabi belum terdesign komputerisasinya.
    Dan Nabi faham, kelak dunia akan berkembang. Maka, ketika ada seseorang yang bertanya bagaimana jika bisnis di model begini begitu, Nabi cuma menjawab :
    "Antum a'lamu umuri dunyakum"
    Kalian yang lebih faham urusan duniawi.

    Asal ndak melenceng dari aturan, silakan lanjutkan.
    Kemudian, untuk menjadi seseorang untuk menghukumi sebuah perkara (Mufti) dalam memberikan fatwa harus memenuhi 2 syarat.
    1. Mampu menjelaskan proses yang dia hukumi
    2. Memahami kaidah hukum islamnya.

    Tahu di Alquran, ada perintah judi itu diharamkan. Tapi ketika diminta untuk menjelaskan "Apa itu judi?" "Bagaimana prosesnya?" dia tidak bisa menjawab, maka gugur haknya memberikan sebuah penilaian...

    Demikian pula sebaliknya... Piawai dalam menjelaskan proses perjuadian, model-modelnya apa saja, teknik menangnya bagaimana, dst, tapi tidak faham kaidah hukumnya, maka orang ini gugur juga haknya untuk memberikan sebuah fatwa.

    Bagaimana dengan MLM ?

    Bincang santai dengan DR Antonio Syafiie, Pakar Ekonomi syariah, MLM pada prinsipnya boleh. Kalaupun mau dihukumi secara syara', kita harus melihat dulu...

    "Wah MLM Haram" --> MLM yang mana dulu, banyak orang membuat usaha MLM..
    "MLM X pak, haram" --> Haramnya dimana ? Perusahaan, Produk, atau bagi hasilnya ?
    "MLM itu bikinannya orang non muslim pak, jadi ya haram" Nabi dulu pernah membeli baju zirah dari seorang nasrani... Ndak ada masalah..
    "Produk MLM harganya selangit pak, ini pasti mengambil keuntungannya berlipat-lipat hanya untuk membayar bonus membernya" --> Apa salahnya mengambil keuntungan tinggi dari sebuah perdagangan ? Asal buka barang kebutuhan pokok, sah sah saja mengambil keuntungan tinggi dari perdagangan...

    Ayam itu HALAL, menjadi tidak halal karena cara menyembelihnya yang tidak halal, maka jatuhnya menjadi haram.
    Ayamnya halal, motongnya sudah sesuai aturan, tapi MEMASAKNYA DICAMPUR dengan bahan makanan yang tidak halal, maka jatuhnya juga haram.
    Ayam halal, motongnya halal, dimasak dg bahan halal, tapi makannya menggunakan perlengkapan makan terbuat dari emas.. Haram juga jatuhnya...

    Haram itu banyak perspektifnya,
    Mau dari dzatnya, caranya, atau apanya..
    Harus jelas.

    "MLM itu haram"MLM apa dulu ? Haramnya dimana dulu ?Produknya, Perusahaannya, Marketing plannya..
    Setelah jelas, baru kita bisa diskusikan dan hukumi sesuai aturan syara'.
    Tidak dapat digeneralisir.
    Ingat, harus tetap objektif

    6. "MLM itu bisnis piramida"
    Apa itu piramida ? Piramida adalah sebuah bangunan mirip segitiga, dimana semakin keatas semakin mengerucut posisinya.Sebelum kita komentari bersama, mari kita lihat dulu APA YANG KITA YAKINI SEOLAH-OLAH LUMRAH di kehidupan nyata.

    Banyak mana antara karyawan kelas bawah, dibanding dengan karyawan administasi?
    Banyak mana karyawan kelas menengah dibanding dengan manajer ?
    Banyak mana jumlah manajer dengan direktur ?
    Banyak mana jumlah direktur, dengan presiden direktur ?
    Apakah semakin tinggi posisi kepemimpinan, isinya semakin sedikit orang ?

    Apakah mereka yang menjabat di posisi puncak di perusahaan besar, adalah orang2 yang langsung duduk, atau MENGAWALI KARIRNYA dari bawah ?Dalam piramida, atas tetap atas, bawah tetap bawah.

    Pohon keluarga kita adalah piramida... Sebijaksana apapun kita, anak tetap anak, bapak tetap bapak.
    Di perusahaan konvensional, sekuat apapun Anda berusaha, ujungnya adalah Presiden Direktur, bukan pemilik perusahaan.

    Bagaimana dengan MLM ?

    Kembali lagi ke kaidah dasarnya, MLM hanyalah strategi marketing bagi perusahaan konvensional. Jika 1 unit usaha Anda diminta untuk menghasilkan keuntungan Rp 100jt terasa berat. Maka target itu diturunkan menjadi Rp 10jt saja, tapi Anda memiliki 10 outlet. Terasa ringan dan lebih kelihatan gaya kan kalau punya cabang dimana-mana...

    Pun sama dengan MLM. Bedanya, license yang diberikan MLM adalah MASTER FRANCHISE. Artinya setiap perwakilan, BERHAK melakukan REKRUTMEN kepada siapapun yang dia kehendaki.

    Misal, Anda mengambil usaha sebuah perusahaan besar, dan membuka gerainya di jakarta. Sistim yang dikembangkan adalah MASTER FRANCHISE.
    Aturan mainnya adalah, di luar keuntungan yang lain-lain, master franchise berhak mendapat royalti 10% dari setiap outlet yang direkomendasikan.. Katkanlah, Anda merekomendasi ke saya, dan saya mengambil Master Franscise di Surabaya. Selain saya, ada teman Anda juga yang tertarik dan membuka cabangnya di Bandung atas rekomendasi Anda.Karena prospeknya bagus, maka saya infokan bisnis ini kepada teman saya di daerah, dan akhirnya saya dapat merekomendasi 3 outlet tambahan, di Malang, Jember, dan Madiun.

    Semisal saja masing-masing outlet berjaya, dan beromset 100jt.
    Maka royalti Anda, karena cuma mengenalkan ke dua orang saja (BANDUNG & SURABAYA),adalah (Rp 100jt x10%) x 2= Rp 20jt
    Sementara saya karena mengenalkan di tiga kota (MALANG, JEMBER, MADIUN)Maka saya mendapat royalti(Rp 100jt x 10%) x 3= Rp 30jt

    Dari sini saja, kita dapat membaca, kalau saya yang bekerja lebih giat, hasilnya lebih besar daripada Anda yang merekomendasikan bisnis ini ke saya.
    Inilah fairplay yang ada di MLM.

    Man Jadda Wa Jadda
    Barang siapa yang bersungguh-sungguh, Allah limpahkan ramhat lebih besar...

    Mamang secara stuktural Anda di atas saya, tetapi secara perhitungan income, saya yang lebih besar..

    Dimana letak piramidanya ?
    Yang ada malah piramida tidak sempurna... Dan tidak akan pernah bisa sempurna...

    7. "Ada dua akad dalam 1 transaksi"
    Selain perkara haram, ada juga yang menyebutkan perkara 2 transaksi dalam satu akad. Yaitu akad konsumen sekaligus akad makelar.

    Apakah benar demikian ?

    Imam syafi'i dalam suatu kajiannya, bercerita tentang seorang pemuda yang sedang melakukan perjalanan jauh. Karena lelah, dia bersandar di pinggiran sungai, sambil menikmati embusan angin sepoi-sepoi.Tak terasa ada sebuah apel yang hanyut, dipungut, dan dimakanlah.
    Sampai akhirnya habis, si pemuda ini tadi baru ingat. Siapa pemilik buah apel ini ya ?Kalau ada pemiliknya, pasti dia mencari buah apelnya yang jatuh. Disusurinya sungai tadi, karena takut buah apel yang dimakan tadi menjadi haram... Hingga sampailah dia menemukan pohon apel yang tumbuh subur di pinggir sungai.Tak jauh dari situ, dia melihat ada sebuah rumah, pastilah dia pemilik pohon apel yang dia makan buahnya. Diketuklah, hingga pemilik rumah keluar, dan pemuda tadi menceriktakan kegelisahan akibat memakan buah apel tadi. Setelah mendengar kisahnya, si pemilik buah mengajukan syarat demikian,

    "Baiklah, buah apelnya aku anggap lunas, jika kamu mau menikahi anakku"

    Nah, disinilah konteks 1 akad dua transaksi ini diberlakukan.

    "Hutangmu lunas, asal anakmu nikah sama anakku"

    Ada unsur pemaksaan, ketidakjelasan nilai yang diperpindahtangankan, serta ada salah satu pihak yang merasa dirugikan.

    Bagaimana dengan MLM ?

    Menjadi anggota MLM adalah membeli kartu diskonnya. Agar kita dapat harga murah dan jika ada pembeli, kita bisa mengambil untung.
    Di Surabaya, ada pasar GROSIR yang memberlakukan sistim kartu member, dulu namannya MAKRO, sekarang ganti menjadi LOTTE MART.

    Dimana salahnya membeli kartu diskon ?

    Kalau saya beli dengan harga diskon (harga distributor) kemudian barang yang saya beli ndak jadi saya jual, saya konsumsi pribadi (bertindak sebagai konsumen) apa salah ?

    Kalau salah, aturan mana yang melarang pedagang mengonsumsi barang dagangannya sendiri ?

    "bukan begitu pak, setelah menjadi member, saya diwajibkan harus belanja terus setiap bulan.. Kalau ndak begitu, saya ndak dapat bonus di MLM yang saya ikuti..."

    Ok, sekarang saya tanya, BONUS itu HAK atau kewajiban ? (Hak..)
    Kalau hak kan berarti boleh diambil boleh tidak.
    Sekarang, apa syarat agar kita menerima bonus ?
    Minimal, kita melakukan transaksi pribadi dan memiliki jaringan pemasaran yang muncul atas rekomendasi kita...
    Artinya, kalau kita ndak melakukannya, ya ndak terima bonus...Kalau dilakukan, baru terima...

    Kalau melakukannya dengan sungguh-sungguh dan hasil kerjanya bagus, bonus juga makin besar, insentif juga ditambah... Betul ndak ?

    Belanja bukan wajib, tapi tanggung jawab.
    Kalau Anda memilih MLM sebagai profesi, ya itulah kegiatan kerja Anda.
    Siapa yang mau membayar mahal untuk orang yang cuma duduk-duduk diem sambil baca koran dan rokokan..
    Jelas ndak ada...

    Terkait: Ciri Perusahaan MLM Baik dan Sehat

    Anda memiliki karyawan yang kerjanya sedikit, nuntut gajinya selangit pasti juga segera dipecat. Bonus yang dibagikan kepada member MLM, didapat dari bagi hasil penjualan. Lha kalau semua diem-dieman, belanja ndak, cerita ke orang juga ndak, jualan ndak, perusahaan MLM mau bayar pakai uang dari mana ?

    Masa mau diminta "jaga lilin" ? Hehehe...

    Bagi yang gabung MLM, hanya untuk dapat harga murah, juga boleh.
    Jangan salah persepsi kepada oknum yang mewajibkan...
    Itu pilihan..

    Karena prinsip dasar MLM adalah merubah pengeluaran menjadi pemasukan, maka sebisa mungkin kebutuhan yang kita keluarkan, diolah kembali menjadi pemasukan.Sederhana kan...

    8. "Ada makelar memakelari makelar"
    Praktik ini biasanya terjadi pada bisnis properti.Itulah mengapa, sekarang ramai orang menjual rumah tapi di papan pengumumannya diulisi TP alias tanpa perantara.

    Apa salahnya perantara ?
    Bukankah mereka adalah marketing gratisan.

    Menutup diri dari perantara, sama juga menutup atau membatasi saluran rejeki kita.
    Nah, praktik makelar memakelari makelar itu terjadi bilamana kondisinya seperti ini :

    Saya jual rumah, minta tolong Pak A dengan harga Rp X
    Pak A punya kenalan Pak B, rumah saya diakui milik dia, kemudian ditawarkanya dg harga Rp X + A
    Pak B punya temen C, kejadian yang serupa, sehingga harganya naik lagi jadi RP X + A+B
    demikian seterusnya... Disinilah terjadi ketidak transparanan...

    1. Produk yang bukan miliknya, diakui secara tidak sah (belum dibeli)
    2. Terjadi ketimpangan harga yang terjadi di luar pengetahuan pemilik barang yang sah. Sehingga rentan cek cok di kemudian hari.

    Bagaimana dengan MLM ?

    Siapa Makelarnya ? Siapa juga yang dimakelari ?
    Di MLM, saya membeli produk di perusahaan senilai Rp X
    Ketika saya merekomendasi teman untuk menjadi member, maka dia pun MENDAPAT HARGA YANG SAMA dan MEMBELINYA LANGSUNG DI PERUSAHAAN, bukan melalui saya. Kecuali status dia adalah konsumen, ketika terjadi perbedaan harga, itu sah-sah saja, wong saya dagang.

    Di MLM, semua transparan. Harga distributor berapa, konsumen berapa, komisi berapa.
    Justru di dunia konvensional, kita bisa mengadopsi banyak metode dagang yang transparatif seperti ini.

    Contoh sederhana saja, ketika mampir makan di sebuah warung kaki lima.
    Di tempat yang baru pertama kali kita kunjungi. Tidak ada plank harga, cuma tulisan "BAKSO & ES CAMPUR"
    Kita masuk, asal langsung pesan saja.. Dipikirnya paling juga sama dengan warung kaki lima yang lain.
    Ternyata ketika bayar, harga per porsinya Rp 50rb. Anda makan sekeluarga, 4 orang, totalnya sudah Rp 200rb.
    Belum tambah es campurnya, seporsi ternyata Rp 25rb, kali 4 sudah Rp 100rb. Totalnya Rp 300rb
    Padahal cuma makan bakso, tapi habisnnya bisa Rp 300rb sekali andog (Red Jawa = Nongkrong)

    Kecewa, gemes, sakit hati ?
    yang tersenyum pasti pernah mengalami...

    Makanya, perusahaan yang berkembang, mereka transparan.Tampilkan pricelist menu, bayar di depan. Kalau memang ndak cocok dengan harganya, ya ndak perlu ngomel... dan ndak perlu juga beli... Simple kan..

    Kesimpulannya, bagi Anda yang tidak mengambil pilihan sebagai pebisnis MLM, juga jangan mendikotomikan sesuai dengan opini publik.
    Tidak memilih, bukan berarti membenci...

    Jujur, jika kita mau berhitung, katakanlah sebagai seorang karyawan.Ambil saja standar UMR jakarta Rp 2jt.
    Dengan jam kerja 8 jam sehari, 25 hari sebulan, berarti Anda dibayar Rp 2jt untuk 200 jam kerja atau dengan kata lain dibayar Rp 10rb sejam.

    Ya, mohon maaf, untuk nonton bioskop saja masih kurang... Buat beli es campur saja, habisnya bisa lebih cepat dari 1 jam...
    Lagi-lagi saya cuma bisa bilang, kalau bukan karena pertolongan ALLAH SWT, saya yakin seutuhnya angka segitu ndak akan cukup untuk hidup...

    Kalau sekadar bertahan hidup saja masih mungkin, tapi kalau untuk benar-benar menikmati hidup,
    kita harus memiliki program akselerasi tersendiri...

    Bagi yang gajinya diatas ini, tinggal dikali saja kan.

    Semisal 10 kali lipatnya. Artinya kita bekualitas Rp 100.000 per jam.
    Uang segitu, jika dibawa ke salon atau pusat bugaran seperti pijat refleksi saja bisa habis dalam kurun waktu kurang dari sejam.

    Apakah jika demikian, tukang Es Campu, Tukang Salon, dan Tukang Pijit memiliki kemampuan menghasilkan uang lebih baik daripada Anda ?

    Berapa banyak investasi yang Anda keluarkan untuk dapat sukses seperti sekarang ?
    Pernahkah menghitung biaya pendidikan Anda mulai dari TK hingga perguruan tinggi ?

    Berapakah biaya pendidikan Anda ketika TK, SD, SMP, SMA, hingga kuliah di sebuah Perguruan Tinggi ternama ?

    Boleh percaya, boleh tidak, jika angkanya kita total, jumlahnya kurang lebih mencapai Rp 100.000.000 !!
    Ya, Rp 100juta... Uang yang susah payah dikumpulkan oleh orang tua Anda,Bahkan mereka rela berpuasa, dan mungkin juga berhutang HANYA DEMI MENYEKOLAHKAN ANDA.

    Relakah Anda, jika investasi pendidikan dari orang tua Anda yang nilainya ratusan juta tadi hanya hanya menghasilkan tidak lebih dari 2% per bulan atau 24% setahun ?

    Sementara infilasi di Indonesia menyentuh 11% pertahunnya.Bagaimana dengan kenaikan gaji Anda ?
    Berapa banyak orang di Indonesia yang memiliki penghasilan Rp 2juta hingga Rp 20 juta setiap bulannya ?
    Apakah benar AndA BEKERJA HANYA BERHARAP UANG PENSIUNAN ?

    Kegelisahan inilah yang sebenarnya mengetuk hati kami.
    Andaipun hati Anda tidak bergetar, saya ucapkan selamat..
    Karena pasti Anda memiliki kualitas hidup yang memang di atas rata-rata.

    Berbisnis MLM adalah pilihan. Sebagaimana mendengar musik...
    Ada pop, jazz, rock, juga dangdut.

    Bukan berarti ketika Anda suka POP dan Saya suka dangdut,
    citra saya jauh lebih rendah daripada Anda.
    Walaupun jika mau jujur, pemegang royalti lagu termahal dan terkaya adalah adalah pemusik dangdut.
    Karena memang dangdut is music of my country.... hehehehe...

    Mari saling menghargai dan memuliakan.

    Contact Form

    Name

    Email *

    Message *